https://sumenep.times.co.id/
Berita

Diskusi Budaya di Tasikmalaya: El Clasico Indonesia, Sepakbola Industri dan Krisis Ruang Publik

Minggu, 11 Januari 2026 - 19:50
Diskusi Budaya di Tasikmalaya: El Clasico Indonesia, Sepakbola Industri dan Krisis Ruang Publik Ketua Askot PSSI Kota Tasikmalaya, H Wahid saat memaparkan perkembangan sepak bola di Tasikmalaya, Minggu (11/1/2026) (FOTO : Harniwan Obech/TIMES Indonesia)

TIMES SUMENEP, TASIKMALAYA – Sorak sorai menggelegar saat peluit kick-off laga Persib Bandung kontra Persija Jakarta ditiup. El Clasico Indonesia kembali menyedot perhatian publik, termasuk di Kota Tasikmalaya

Layar-layar menampilkan rivalitas klasik, emosi tumpah, dan jutaan pasang mata terpaku. Namun, di sebuah sudut Kota Tasikmalaya, euforia itu dibingkai oleh kegelisahan yang jauh lebih sunyi, ke mana perginya lapangan sepak bola rakyat?

Pertanyaan itu menjadi benang merah dalam Diskusi Budaya yang digelar Komunitas Cermin Tasikmalaya bersama Lembaga Seni Mahasiswa Islam (LSMI) HMI Cabang Tasikmalaya di Buleud Gallery & Studio, Jalan Pemuda, Minggu (11/1/2026). 

Diskusi bertema “Sepak Bola antara Permainan, Olahraga, dan Industri” ini bukan sekadar obrolan jelang nonton bareng, melainkan upaya membaca ulang arah kebudayaan sepak bola di Kota Tasikmalaya.

Sepakbola Melampaui Batas Olahraga

Bagi banyak warga Tasikmalaya, sepak bola bukan hanya olahraga. Ia adalah ingatan kolektif, bagian dari masa kecil, ruang pertemuan sosial, dan medium pembelajaran nilai kebersamaan. 

Lapangan tanah di kampung, halaman sekolah, hingga alun-alun kota menjadi saksi lahirnya persahabatan, konflik kecil, dan kegembiraan bersama.

Namun ingatan itu kini berhadapan dengan realitas baru. Lapangan yang dulu mudah dijumpai, kini menghilang satu per satu. Kota tumbuh, bangunan berdiri, tetapi ruang bermain tak bertambah. Di sinilah kegelisahan bermula.

Moderator diskusi, Ashmansyah Timutiah yang akrab di sapa Acong, membuka perbincangan dengan mengingatkan bahwa sepak bola tidak pernah berdiri di ruang hampa. Ia selalu terkait dengan kebijakan tata kota, relasi kuasa, dan struktur ekonomi.

“Dulu, hampir di setiap desa atau kelurahan ada lapangan sepak bola. Di tingkat kecamatan, kabupaten, alun-alun menjadi ruang publik yang hidup. Sekarang kita harus jujur, di beberapa kelurahan Kota Tasikmalaya lapangan sepak bola sudah tidak ada,” ujarnya.

Ketiadaan lapangan itu membawa konsekuensi serius. Sepak bola yang dulunya gratis, kini berbiaya mahal. “Anak-anak mau main bola harus bayar. Mini soccer atau futsal bisa Rp150 ribu per jam. Ini bukan sekadar soal harga, tapi soal akses dan keadilan,” kata Acong.

Ia menggambarkan bagaimana anak-anak akhirnya bermain di ruang yang tak semestinya—jalanan, gang sempit, bahkan area parkir. Fenomena tersebut, menurutnya, menjadi tanda bahwa sepak bola rakyat kehilangan ruang hidupnya.

Pergeseran Nilai Sepakbola

Diskusi kemudian mengalir pada isu industrialisasi sepak bola. Acong menilai, ketika lapangan diperlakukan sebagai aset bisnis dan pemain sebagai komoditas, maka nilai kebudayaan sepak bola mulai tergerus.

“Hari ini lapangan seperti pabrik, pemain jadi barang dagangan. Harga ditentukan pasar, agen mengatur arah karier. Kreativitas dan nilai kemanusiaan justru tersisih,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa sepak bola sejatinya adalah produk kebudayaan, hasil cipta dan karsa manusia, bukan produk industri semata.

“Ketika semuanya tunduk pada pasar, unsur kebudayaan sepak bola menjadi rapuh,” tambahnya.

Ketimpangan Fasilitas dan Kebutuhan

Ketua Askot PSSI Kota Tasikmalaya, H Wahid, mengamini bahwa sepak bola hari ini telah mengalami pergeseran mendasar. Bahkan, menurutnya, ada dua unsur tambahan yang kini melekat kuat: politik dan eksploitasi.

“Sepak bola hari ini tidak bisa dilepaskan dari politik. Dari nasional sampai daerah, semua ingin masuk. Itu realitas,” ujar Wahid.

Namun di tingkat lokal, persoalan yang paling terasa adalah minimnya fasilitas. Warisan lapangan sepak bola yang tersisa sangat terbatas, sementara kebutuhan terus meningkat.

“Dampaknya, jalur menuju sepak bola prestasi hanya bisa diakses mereka yang punya modal. Yang punya uang bisa masuk sekolah sepak bola atau akademi. Yang tidak, ya hanya bermain seadanya,” ungkapnya.

Ia mengingatkan bahwa generasinya tumbuh dengan sepak bola gratis di sore hari - sebuah pengalaman yang kini semakin langka.

Adaptasi dalam Keterbatasan

Wahid mencontohkan, di pedesaan, sawah saat musim kemarau masih sering dijadikan lapangan dadakan. Fenomena ini menunjukkan kemampuan masyarakat beradaptasi dengan keterbatasan. Namun di wilayah perkotaan, ruang adaptasi semakin sempit.

“Turnamen kampung yang dulu rutin, sekarang perlahan menghilang. Padahal itu ruang sosialisasi dan pembibitan alami,” katanya.

Hilangnya turnamen kampung bukan sekadar soal olahraga, tetapi juga hilangnya ritus sosial yang menyatukan warga.

Dari sisi pemerintah, Kabid Pemuda dan Olahraga Disporabudpar Kota Tasikmalaya, Momon Suryaman, mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menyusun Detail Engineering Design (DED) untuk tiga lapangan sepak bola yakni Karikil, Sambong, dan Wirabuana.

Namun ia mengingatkan bahwa lapangan di Kota Tasikmalaya tidak bisa dilihat semata sebagai fasilitas olahraga.
“Lapangan punya fungsi sosial yang kompleks. Ada upacara, kesenian, dan kegiatan masyarakat. Kalau distandarkan penuh sebagai lapangan sepak bola, harus dipikirkan dampaknya,” jelas Momon.

Menurutnya, kebijakan pembangunan lapangan harus mempertimbangkan akses publik, keberlanjutan, dan perawatan, agar tidak justru menyingkirkan masyarakat.

Hilangnya Fasilitas Ruang Publik

Ketua DKKT Kota Tasikmalaya, Tatang Supriatna Sumpena (Tatang Pahat), membawa diskusi pada ranah yang lebih filosofis: kebahagiaan warga kota. “Tingginya aktivitas warga di ruang-ruang tak resmi dari perempatan hingga badan jalan menunjukkan kebutuhan ruang publik yang tidak terpenuhi,” ujarnya.

Menurut Tatang, euforia sepak bolatermasuk saat Persikotas berprestasi sering kali tidak berbanding lurus dengan keberpihakan pemerintah terhadap ruang publik. “Sepak bola sering dijadikan kendaraan politik. Semua orang suka bola. Tapi keberpihakan pada lapangan dan ruang publik justru tertinggal,” katanya.

Ia menegaskan, sepak bola yang mahal dan terlalu industrial berpotensi menjauh dari nilai dasarnya sebagai sarana sosialisasi dan kebudayaan rakyat. “Kalau ruang publik tidak disiapkan, kebahagiaan warga bisa liar. Sepak bola seharusnya menjadi ruang bermain, bukan sekadar etalase industri,” tandasnya.

Diskusi ditutup dengan nonton bareng Persib Bandung vs Persija Jakarta. Sorak sorai dan rivalitas mengisi ruangan. Namun refleksi yang tertinggal jauh lebih panjang dari durasi pertandingan.

Di balik euforia El Clasico Indonesia, Kota Tasikmalaya menyimpan pekerjaan rumah besar: mengembalikan sepak bola ke akarnya sebagai permainan rakyat dan ruang kebudayaan, tanpa menutup mata terhadap perubahan zaman.

Sepak bola, sebagaimana kota, selalu bergerak. Pertanyaannya bukan apakah perubahan bisa dihentikan, melainkan ke mana arah perubahan itu akan membawa kebahagiaan warganya. (*)

Pewarta : Harniwan Obech
Editor : Ronny Wicaksono
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Sumenep just now

Welcome to TIMES Sumenep

TIMES Sumenep is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.